Blog

Hidupnya Seorang Pemuda dengan Ilmu dan Taqwa

Oleh : Muhammad Ihsan Maulana

            Imam Syafi’I Rahimahullahu Ta’ala  pernah berkata “Hayaatu al-fata bil ‘ilmi wa at-tuqa” (hidupnya seorang pemuda adalah dengan ilmu dan taqwa). Ada tiga kata kunci penting yang dapat digali dari ungkapan tersebut, pertama kata dari “pemuda”, yang kedua “ilmu”, dan yang terakhir adalah “taqwa”. Tiga kata kunci ini harus menjadi satu kesatuan yang utuh untuk membangun para pemuda dengan ilmu tinggi yang diiringi dengan rasa ketaqwaan, sehingga diharapkan dapat menjadi aset bangsa sebagai roda penggerak arah bangsa kearah yang lebih baik.

Menurut psikologi, remaja adalah suatu periode transisi dari masa awal anak anak hingga masa awal dewasa, yang dimasuki pada usia kira kira 10 hingga 12 tahun dan berakhir pada usia 18 tahun hingga 22 tahun. Masa remaja bermula pada perubahan fisik yang cepat, pertambahan berat dan tinggi badan yang dramatis, perubahan bentuk tubuh, dan perkembangan karakteristik seksual seperti pembesaran buah dada, perkembangan pinggang dan kumis, dan dalamnya suara. Pada perkembangan ini, pencapaian kemandirian dan identitas sangat menonjol (pemikiran semakin logis, abstrak, dan idealistis) dan semakin banyak menghabiskan waktu di luar keluarga.

Dilihat dari bahasa inggris “teenager”, remaja artinya yakni manusia berusia belasan tahun.Dimana usia tersebut merupakan perkembangan untuk menjadi dewasa. Oleh sebab itu orang tua dan pendidik sebagai bagian masyarakat yang lebih berpengalaman memiliki peranan penting dalam membantu perkembangan remaja menuju kedewasaan.

Ilmu merupakan kata yang berasal dari bahasa Arab علم, masdar dari عَـلِمَ – يَـعْـلَمُ yang berarti tahu atau mengetahui. Dalam bahasa Inggris Ilmu biasanya dipadankan dengan kata science, sedang pengetahuan dengan knowledge. Pengertian akan ilmu adalah pengetahuan tentang sesuatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu dibidang pengetahuan itu, dari pengertian tersebut nampak bahwa ilmu memang mengandung arti pengetahuan, tapi pengetahuan dengan ciri-ciri khusus yaitu yang tersusun secara sistematis atau menurut Moh. Hatta (1954 : 5), “pengetahuan yang didapat dengan jalan keterangan disebut ilmu”

Ilmu menempati kedudukan yang sangat penting dalam ajaran Islam, hal ini terlihat dari banyaknya ayat Al-Qur’an yang memandang orang berilmu dalam posisi yang tinggi dan mulia disamping hadist-hadist nabi yang banyak memberi dorongan bagi umatnya untuk terus menuntut ilmu.

Didalam Al Qur’an , kata ilmu dan kata-kata jadiannya di gunakan lebih dari 780 kali, ini bermakna bahwa ajaran Islam sebagaimana tercermin dari Al-Qur’an sangat kental dengan nuansa nuansa yang berkaitan dengan ilmu, sehingga dapat menjadi ciri penting dari agama Islam sebagaimana dikemukakan oleh Dr. Mahadi Ghulsyani sebagai berikut : “Salah satu ciri yang membedakan Islam dengan yang lainnya adalah penekanannya terhadap masalah ilmu (sains), Al-Qur’an dan As-Sunnah mengajak kaum muslim untuk mencari dan mendapatkan Ilmu dan kearifan, serta menempatkan orang-orang yang berpengetahuan pada derajat tinggi.” Dengan melihat uraian sebelumnya, nampak jelas bagaimana kedudukan ilmu dalam ajaran Islam. Al-Qur’an telah mengajarkan bahwa ilmu dan para ulama menempati kedudukan yang sangat terhormat, sementara hadist nabi menunjukan bahwa menuntut ilmu merupakan suatu kewajiban bagi setiap muslim.

Dari sini timbul permasalahan apakah segala macam ilmu yang harus dituntut oleh setiap muslim dengan hukum wajib (fardhu), atau hanya ilmu tertentu saja? Hal ini mengemukan mengingat sangat luasnya spesifikasi ilmu dewasa ini. Pertanyaan tersebut diatas nampaknya telah mendorong para ulama untuk melakukan pengelompokan (klasifikasi) ilmu menurut sudut pandang masing-masing, meskipun prinsip dasarnya sama, bahwa menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim.

Syech Zarnuji dalam kitab Ta’limu al-Muta‘alim ketika menjelaskan hadist bahwa menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim menyatakan : Ketahuilah bahwa sesungguhya tidak wajib bagi setiap muslim dan muslimah menuntut segala ilmu, tetapi yang diwajibkan adalah menuntut ilmu perbuatan (‘ilmu al-hal) sebagaimana diungkapkan, sebaik-baik ilmu adalah ilmu perbuatan dan sebagus-bagus amal adalah menjaga perbuatan. Artinya setiap muslim ataupun muslimah diwajibkan untuk memepelajari ilmu tentang agama ( tauhud dan aqidah ) sebelum mempelajari ilmu dalam konteks untuk mencari harta atau dapat juga dikatakan ilmu yang behubungan dengan hal-hal duniawi.

Sementara itu Al Ghazali di dalam Kitabnya Ihya Ulumudin mengklasifikasikan ilmu dalam dua kelompok yaitu, 1) Ilmu Fardu a’in ; 2) Ilmu Fardu Kifayah, kemudian beliau menyatakan pengertian ilmu-ilmu tersebut sebagai berikut :

Ilmu fardu a’in, ilmu tentang cara amal perbuatan yang wajib, maka orang yang mengetahui ilmu yang wajib dan waktu wajibnya, berartilah dia sudah mengetahui ilmu fardu a’in. Ilmu fardu kifayah ialah tiap-tiap ilmu yang tidak dapat dikesampingkan dalam menegakan urusan duniawi. Lebih jauh, Al Ghazali menjelaskan bahwa yang termasuk ilmu fardu a’in ialah ilmu agama dengan segala cabangnya, seperti yang tercakup dalam rukun Islam, sementara itu yang termasuk dalam ilmu fardhu kifayah antara lain ilmu kedokteran, ilmu berhitung untuk jual beli, ilmu pertanian, ilmu politik, bahkan ilmu menjahit, yang pada dasarnya ilmu-ilmu yang dapat membantu dan penting bagi usaha untuk menegakkan urusan dunia.

Al-Qur’an adalah sumber Ilmu Pengetahuan sekaligus sumber ajaran Agama islam, Untuk itulah Al-Qur’an sebagai dasar yang mampu menjelaskan bagaimana ilmu pengetahuan bisa berkembang di kalangan ummat Islam dan pernah mencapai masa keemasan, walaupun sekarang tidak seperti zaman Daulah Umayyah dan Daulah Abbasiyah yang berhasil mengembangkan ilmu pengetahuan secara gemilang dengan berlandaskan Islam. Terlepas dari hal itu banyak sekali ilmuwan-ilmuwan muslim di masa lampau yang sangat terkenal hingga Eropa bahkan ilmu-ilmu yang dikembangkannya menjadi cikal bakal ilmu modern saat ini.

Ibnu Nafis (Abu al-Hasan Ali bin Hazm al-Qarsyi al-Dimasyqi) merupakan ilmuwan muslim pada bidang kedokteran, dimana beliau menjelaskan mengenai system peredaran darah sebelum William Harvey (Dokter Inggris) menjelaskannya 300 tahun kemudian. Al-khawarizmi ( Abu Ja’far Muhammad bin Musa al-khawarizmi ), Beliau terkenal dalam ilmu di bidang matematika. Banyak sekali karya-karya yang dibuat nya dan menjadi rujukan bagi ilmuwan-ilmuwan di Eropa. Beliau yang memperkenalkan pertama kali tentang geometri,aljabar (al-gebra),aritmatika dan trigonometri. Karya terbesar yang menjadi temuannya yaitu, beliau menjadi pelopor penggunaan angka nol dan penentuan dalam ukuran dan bentuk bumi yang pada hasil pengamatannya hanya selisih 2.887 kaki dari ukuran bumi sebenarnya, sungguh hasil yang sangat luar biasa pada zaman itu. Jabir bin Hayyan, dimana orang barat memanggilnya Geber . Beliau sangat ahli di bidang kimia, sehingga banyak sekali hasil penelitiannya yang sangat berpengaruh pada perkembangan ilmu kimia saat ini, seperti beliau penemu zat asam klorida, asam nitrat, asam sitrat, dan asam asetat. Beliau juga berhasil mencatat pemanasan anggur yang menimbulkan gas yang mudah terbakar, ini merupakan cikal bakal penemuan etanol. Karena jasa-jasanya yang banyak sekali dalam ilmu kimia, sehingga beliau dikenal sebagai bapak kimia. Oleh karena itu diharapkan semoga umat islam dapat mencapai masa kejayaan seperti dahulu kala dimana umat islam memegang pokok-pokok persoalan dalam ilmu pengetahuan, sehingga sendi-sendi peradaban dipegang oleh umat islam dengan munculnya ilmuwan-ilmuwan muslim yang sangat luar biasa.

Imam Ali bin Abi Thalib radliyallah ‘anhu berkata, “takwa adalah al Khaufu minal Jalil (takut kepada Allah yang Mahaagung), al ‘Amal bil Tanziili (mengamalkan al Qur’an dan al Sunnah), al Ridla bil Qalil (ridla atas pembagian rizki yang sedikit), dan al isti’dad liyaum al Rahiil (mempersiapkan diri untuk perjalanan di akhriat).”

Taqwa berasal dari kata waqa-yaqi-wiqayah yang artinya memelihara. “memelihara diri dalam menjalani hidup sesuai tuntunan/petunjuk allah” Adapun dari asal bahasa arab quraish taqwa lebih dekat dengan kata waqa Waqa bermakna melindungi sesuatu, memelihara dan melindunginya dari berbagai hal yang membahayakan dan merugikan. Itulah maka, ketika seekor kuda melakukan langkahnya dengan sangat hati-hati, baik karena tidak adanya tapal kuda, atau karena adanya luka-luka atau adanya rasa sakit atau tanahnya yang sangat kasar, orang-orang Arab biasa mengatakan Waqal Farso Minul Hafa (Taj).

Dari kata waqa ini taqwa bisa di artikan berusaha memelihara dari ketentuan allah dan melindungi diri dari dosa/larangan allah. bisa juga diartikan berhati hati dalam menjalani hidup sesuai petunjuk allah.

Dari kedua kata antara ilmu dan taqwa harus memiliki korelasi yang padu dalam konteks remaja, sehingga proses pembentukan karakter seorang remaja dapat terarah ke yang lebih baik. Banyak sekali ilmuwan-ilmuwan muslim yang sukses pada zaman dahulu memegang ilmu pengetahuan, oleh karena itu seharusnya kita senantiasa mengikuti jejak mereka dalam proses “pencarian  ilmu”. Pemuda yang memiliki ilmu di dunia ini sangat banyak sekali, tetapi sedikit pemuda yang memiliki ilmu diiringi dengan citra ketaqwaan dalam pengimplementasian ajaran-ajaran islam, sehingga diharapkan pemuda islam dapat tersadar dan bangkit akan keadaan yang terbelakang, sehingga dapat mengembalikan kembali kejayaan-kejayaan umat islam pada zaman dahulu di bidang ilmu pengetahuan.

 

Wallahu’alam…

*Penulis adalah santri PonPes Al-Umm kelas I’dadi

 

" data-url="http://ponpesalumm.com/hidupnya-seorang-pemuda-dengan-ilmu-dan-taqwa/" data-width=640 data-height=480> Share

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *