Blog

Polisi dan Pengail

         Oleh : Siti Kholisoh

          Sebagaimana biasa, pemuda itu duduk-duduk ditepi laut, sambil menunggu umpan kailnya di makan ikan. Pekerjaan itu ia jalani sebagai tanggung jawab kepada keluarganya. Sebab untuk mencari pekerjaan lain, apakah sebagai pedagang atau sebagai pegawai tampaknya sangat sulit bagi pemuda kampung itu. Karena pengalaman tak punya, ijazah pun taka ada. Apalagi gelar sarjana.

“Alhamdulillah …,” begitu kalimat yang keluar dari mulutnya, sambil mengangkat kail yang terdapat seekor ikan besar menggelatung diujungnya. Hari itu tampaknya nasib baik menyertainya. Sehingga ia pulang dengan membawa ikan yang lumayan besar dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya, meskipun hanya seekor.

Di tengah perjalanan pulang, ia berpapasan dengan seekor polisi. Melihat ikan yang dibawa pengail itu, hati sang polisi sangat berkeinginan untuk memilikinya. Polisi itu pun mencoba merayu kepada pengail, agar ikan diberikan kepadanya. Ternyata keinginan itu menjadi hampa dan sia-sia belaka. “Jangankan diminta, dibeli pun saya tak rela”, begitu kata sang pemuda sambil terus berjalan meninggalkannya. Mendengar jawaban itu, polisi dengan menggunakan kekerasannya merebut ikan yang ada di tangan pengail.

Dengan hati sedih dan pilu, pengail itu melanjutkan perjalan pulang menemui keluarga. Berbeda dengan polisi yang pulang dengan membawa rasa gembira, lantaran tanpa susah payah mendapatkan ikan yang cukup besar. Terdorong keinginan untuk segera menikmati hasil rampasannya, ia segera membersihkan ikannya. Namun malang baginya, ikan yang dipegang memetil/mematuk tangannya dan mengakibatkan tangannya sakit membengkak. Akhirnya ia periksakan ke dokter. Di luar dugaan dokter menasihati untuk memotong bagian pergeangan tangannya, agar tidak menjalar sakit yang diderita. Dengan semangat ingin sembuh, diturutilah nasihat itu.

Ternyata dengan hilangnya telapak tangan, belum menjadi jaminan sembuh bagi penyakit yang menimpa. Sebab atas dasar pemeriksaan, kalua jiwanya ingin terselamatkan, dokter menyarakan agar tangannya dipotong sampai sikunya. Saran itu pun dituruti. Namun ternyata semakin hari, semakin bertambah parah. Sampai suatu hari polisi itu harus merelakan kehilangan tangannya sampai bahu, karena terdorong ingin hidup lebih lama.

Dalam keadaan seperti itu, datanglah seorang yang menanyakan sebab-sebab sakit itu. Setelah mendengarkan penjelasannya, tamu itu memberi nasihat. Sekiranya ikan itu masih ada, agar sebaiknya dikembalikan kepada pemiliknya . atau kalu tidak mungkin, carilah pemiliknya dan kamu minta maaf dan minta halalnya.

Polisi yang sedang dirundung bencana, malam itu juga segera mencari sang pengail. Ketika bertemu, polisi itu berlutut dan mencium kaki pengail, sambil meminta maaf dan mohon dihalalkan. Dengan penuh keheranan pengail itu berkata: “Hai pemuda, siapa kamu?” Jawab polisi: “Aku orang yang merampas ikan mu tempo hari. Kedatanganku untuk memohon maaf dan memohon dihalalkan atas ikan yang saya rampas”. Pengail itu menjawab: “Sudah aku maafkan dan aku halalkan”.

Mendengar jawaban itu polisi pun bertanya: “Apakah ketika ikan itu saya rampas, engkau berdo’a kepada Allah?” Pengail itu menjawab: “Betul, saya berdo’a agar orang yang merampas ikan saya, mendapat balasan yang setimpal”. Polisi itu pun insyaf, tersadarkan diri bahwa sakit yang dideritanya merupakan balasan perbuatan zalim yang pernah dilakukannya.

Di dalam satu hadis dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw. Bersabda: “ Do’a orang teraniaya itu dikabulkan Allah, walaupun ia seorang pelacur. Karena pelacur itu menjadi tanggungan dirinya”.

Disadur dari buku : “Menjaga Cinta dan Ridho Allah yang Abadi.

Karya : K.H. Drs. Syaikh MIsbahul Anam, M.T

K.H. Drs. Syahrillah Ashfari, M,Ag.

" data-url="http://ponpesalumm.com/polisi-dan-pengail/" data-width=640 data-height=480> Share

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *