Blog

SELAMAT HARI SANTRI

 

 

Di Hari Santri ini, saya, Alumni Pondok Pesantren Al-Umm, Ciputat, Tangerang Selatan ingin menulis tema santri, yang merupakan hasil perenungan selama ini. Banyak pendapat terkait makna filosofis dari kata santri yang ahirnya sampai kepada masarakat. Dua di antranya saya sampaikan pada tulisan ini.

Umumnya, suatu pondok pesantren berawal dari adanya seorang kyai di suatu tempat, kemudian datang santri yang ingin belajar agama kepadanya. Setelah semakin hari semakin banyak santri yang datang, timbullah inisiatif untuk mendirikan pondok atau asrama di samping rumah kyai.

Istilah pesantren berasal dari kata pe-santri-an, dimana kata “santri” berarti murid dalam Bahasa Jawa. Istilah pondok berasal dari Bahasa Arab funduuq (فندوق) yang berarti penginapan.

Pendapat lainnya, pesantren berasal dari kata santri yang dapat diartikan tempat santri. Kata santri berasal dari kata Cantrik (bahasa Sansakerta, atau mungkin Jawa) yang berarti orang yang selalu mengikuti guru, yang kemudian dikembangkan oleh Perguruan Taman Siswa dalam sistem asrama yang disebut Pawiyatan. Istilah santri juga ada dalam bahasa Tamil, yang berarti guru mengaji, sedang C. C Berg berpendapat bahwa istilah tersebut berasal dari istilah shastri, yang dalam bahasa India berarti orang yang mengetahui buku-buku suci agama Hindu atau seorang sarjana ahli kitab suci agama Hindu. Terkadang juga dianggap sebagai gabungan kata saint(manusia baik) dengan suku kata tra (suka menolong), sehingga kata pesantren dapat berarti tempat pendidikan manusia baik-baik.

Ada beberapa pendapat yang berkaitan dengan kata santri. Kata Santri jika ditulis dalam bahasa arab terdiri dari lima huruf, yaitu (سنتري). Yang mana setiap hurufnya memiliki kepanjangan serta pengertian yang luas.

  1. Sin (س) adalah kepanjangan dari سَافِقُ الخَيْرِ yang memiliki arti Pelopor kebaikan
  2. Nun (ن) adalah kepanjangan dari نَاسِبُ العُلَمَاءِ yang memiliki arti Penerus Ulama.
  3. Ta (ت) adalah kepanjangan dari تَارِكُ الْمَعَاصِى yang memiliki arti Orang yang meninggalkan kemaksiatan.
  4. Ra(ر) adalah kepanjangan dari رِضَى اللهِ yang memiliki arti Ridho Allah.
  5. Ya (ي) adalah kepanjangan dari اليقين yang memiliki arti keyakinan.

Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa kata santri terdiri dari dua kata serapan yaitu; san (son, dalam bahasa Inggris yang berarti anak) dan tri (three, dalam bahasa Inggris yang berarti tiga). Maksudnya, santri berarti anak yang meiliki tiga (pilar) yang sangat penting dalam kehidupan, yaitu Iman, Islam, dan Ihsan.

Terlepas dari pendapat-pendapat yang ada, berkaitan dengan kata santri, izinkan saya menyampaikan pendapat mengenai makna filosofis dari kata santri.

Kalau menurut saya, Santri, yang dalam bahasa Arab bisa ditulis menjadi سنتري , yaitu terdiri dari س , ن , ت , ر , dan ي memiliki makna sabagai berikut:

  1. س : ساكن القلب (orang yang tenang hatinya).
  2. ن : نائل البركة (orang yang mendapat keberkahan).
  3. ت : تائب من الذنب (orang yang bertaubat dari dosa).
  4. ر : راحم الأمة : (penyayang ummat).
  5. ي : ياسر الأمور (orang yang mudah urusan-urusannya).

 

Mari kita bahas satu persatu. Semoga dapat bermanfaat dan menginpirasi agar para santri dapat lebih giat lagi dalam menulis, dengan tulisan yang semoga bernilai ibadah dan dakwah.

  1. س : ساكن القلب

Kehidupan mandiri merupakan kehidupan yang sudah biasa dijalankan para santri. Mereka rela meninggalkan rumah, berpisah dengan keluarga, khususnya orang tua demi meraih ilmu yang bermanfaat, demi tegakknya ‘izzul Islam wa al-muslimin. Permasalahan yang terjadi di pesantren, harus bisa diatasi sendiri. Kebutuhan yang selama di rumah sering kali dikerjakan orang lain, ketika di pesantren harus dikerjakan sendiri-sendiri. Entah itu mencuci baju, mencuci piring dan perabotan lainnya, masak dan lain sebagainya.

Santri dididik agar selalu tenang menghadapi hidup. Karena pada dasarnya, semuanya sudah ada yang mengatur, sudah ada yang menjamin rizki masing-masing. Saat terlambat kiriman misalnya, teman-teman seperjuangan akan selalu siap membantu, baik dengan membagikan makanan yang ada atau dengan meminjamkan uang. Karena sejatinya, teman-teman di pesantren sudah seperti keluarga sendiri. Saat sakit datang menerpa, santri tidak perlu takut sebab teman-temannya juga siap merawat dengan penuh keihlasan.

Sikap tenang dalam menghadapi setiap persoalan sesungguhnya menjadi modal dalam menyikapi masalah. Oleh karena itu, sikap terburu-buru merupakan sikap yang tidak dianjurkan, kecuali tiga perkara; menguburkan mayat, menikahkan anak yang sudah baligh, dan member hidangan kepada tamu.

Ketenangan hati yang telah dilatih selama di pesantren , akan menimbulkan sikap jernih dalam menghadapi persoalan. Sebab, ketika sudah terjun di masarakat, dia tidak akan hanya menghadapi masalah/ ujiannya sendiri, tetapi juga masalah umat yang akan datang silih berganti kepadanya.

  1. ن : نائل البركة

Berkah/barokah adalah زيادة الخير tambahnya kebaikan. Bagi santri, berkah/ tabaruk tidak bisa dipisahkan dari kehidupan mereka. Mereka sudah terbiasa “ngalap berkah” (mengambil berkah) dengan sang Kyai. Kita bisa lihat saat Kyai mereka menyisakan minuman atau makanan, maka para santri akan segera berebut meminum dan memakannya. Santri tidak peduli dengan pendapat orang yang mengingkari adanya berkah sebagaimana video yang pernah beredar di dunia maya, sebab mereka melakukan itu semua juga bukan tanpa dasar yang jelas. Sebelum para santri, hususnya di Indonesai melakukan tabaruk, para ulama salafuna al-shalih berabad abad silma sudah melakukan hal itu. Boleh saja orang/ ustazd bahkan, tidak percaya berkah, Silahkan aja. Tapi jangan coba-coba melarang para santri untuk meninggalkan tradisi tabaruk.

Santri adalah seseorang yang diberkahi. Dengan tradisi tabaruk yang dilakukan selama ini, tentunya atas izin Allah, keberkahan akan mengalir di tubuhnya. Kita bisa lihat saat mereka terjun di masyarakat (saat di masarakat dan mempunyai pesantren, santri biasanya akan dipanggil Kyai). Kita lihat betapa mereka sangat dipandang secara istimewa, husunya dalam urusan Agama. Masyarakat tidak pernah mempertanyalan keilmuan santri, yang mereka tahu, santri itu orang yang pandai dalam ilmu Agama, orang yang memiliki berbagai keahlian. Saat ada acara selamatan, hajatan, atau syukuran lainnya, tentu santri yang akan didahulukan mempimpin. Tidak jarang pula, para santri diminta untuk mengobati berbagai penyakit. Ketika ada yang rewel anaknya, atau kesurupan, melahirkan, atau mengalami penyakit macam-macam, medis maupun non medis, masarakat meminta air doa kepada santri.

Hal ini tidak perlu diartikan sebagai tindak kesyirikan yang bertentangan dengan Agama. Kalau meminta air kepada santri/ kyai dianggap sebagai tindakan syirik, lalu apa bedanya kalau meminta obat kepada dokter. Pasien datang ke dokter, mendapat obat dari dokter, lalu seizing Allah, pasien tersebut sembuh. Orang yang meminta tolong kepada santri pun sama seperti pasiean meminta tolong dokter untuk mengobati. Mereka sakit, lalu datang kepada santri, meminta air, dengan izin Allah juga sembuh.  Orang yang meyakini bahwa yang menyembuhkan adalah air, itu baru yang namanya sirik. Sama saja kalau orang meyakini kalau yang menyembuhkan orang sakit adalah obat dari dokter. Artinya, kesirikan itu tergantung kepada sikap kita.

Karena begitu istimewanya seorang santri inilah yang kemudian guru kami membiasakan kami melakukan berbagai amaliah yang menjadi wajib bagi kami. Kami harus bangun sebelum subuh untuk melakukan qiam al-lalil, puasa Senin Kamis, membaca ayat al-hirz (salah satu faidahnya dapat digunakan untuk berihtiar mengobati berbagai penyakit, medis maupun non-medis), memanfaatkan momen-momen khusus di malam-malam tertentu seperti malam nish al-Sya’ban, ‘Asyura, malam ‘Id dan lail-lain untuk bermunajat kepada Allah Ta’ala. Santri benar-benar disiapkan secara lahir dan batin untuk hidup di tengah-tengah umat yang selalu membutuhkan pegangan/ panutan hidup.

  1. ت : تائب من الذنب

Menghindari dosa menjadi salah satu kunci untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Semakin bersih seseorang dari dosa, semakin mudah mendapatkan ilmu. Pun semakin sering melakukan dosa, semakin sulit pula mendapatkan ilmu. Oleh karea itu, ketika imam Syafi’I berkonsultasi dengan gurunya mengenai hafalan beliau, sang guru memberi nasihat agar meninggalkan dosa. Hal ini sebagai mana termaktub dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim dalam bentuk nazhaman berikut ini:

 

شكوت الى واقع عن سوء حفظي # فأرشدني الى ترك المعاصي

فان الحفظ فضل من اله # و فضل الله لا يعطى لعاصي

“Ku mengadu kepada imam Waqi’ tentang jeleknya hafalanku

Beliau memberi petunjuk agar meninggalkan maksiat

Sesungguhnya hafal adalah anugrah dari Tuhan

Dan anugrah Tuhan tidak akan diberikan kepada ahli maksiat”

Santri dalam menggali ilmu tidak hanya mengandalkan pembelajaran di kelas dan mengulang pelajaran, namun sering kali disertai dengan melakukan berbagai tirakat/ riyadhah, seperti melakukan puasa mutih dan membaca berbagai macam wirid yang berijazah langsung dari guru. Ini bertujuan untuk mensucikan hati. Karena dengan bersihnya hati, maka mendapatkan ilmu akan lebih mudah.

Pastinya tidak ada seseorang yang terhindar dari dosa. apa lagi di zaman ahir seperti ini. Namun ketika terjerumus dalam dosa, sesegera mungkin bertaubat, memohon ampun kepada Allah subhanaHu wa Ta’ala.

  1. ر : راحم الأمة

Sikap saling menyayangi sudah menjadi kebiasaan santri sejak di pesantren. Mereka merasa satu nasib sepenanggungan. Satu senang, yang lain akan merasa senang. Begitu juga saat susah, mereka akan sama-sama merasakannya.

Tentunya sikap kasih, penyayang, sangat dibutuhkan dalam diri santri, hususnya sebagai bekal dakwah dikemudia hari. Ketika sikap kasih begitu kuat, dia akan memandang umat dengan penuh kasih sayang. Kalau tidak memiliki kasih sayang, bagaimana mungkin dakwah akan sukses. Menghadapi murid yang susah sekali menerima pelajaran, dia akan mencampkkannya begitu saja. Tetapi dengan adanya kasih sayang yang kuat, tentu membuat santri akan selalu semangat dalam berjuang, berdakwa, mendakwahi siapa saja yang membutuhkan, tanpa kenal lelah.

  1. ي : ياسر الأمور

Dalam sebuah riwayat dijelaskan, bahwa siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka akan Allah mudahkan jalannya menuju Surga. Kalau jalan ke Surga saja dimudahkan, apa lagi sekedar urusan-urusan yang bersifat duniawi. Santri merupakan orang yang menempuh perjalanan mencari ilmu, dengan berbagai halangan dan rintangannya. Oleh karena itu, tentunya santri masuk dalam keterangan riwayat di atas.

Sebagai bentuk sukur atas dimudahkannya urusan-urannya, yang merupakan anugrah besar dari Allah subhana-Hu wa Ta’ala, santri tentu harus mampu memudahkan urusan-urusan orang lain. Santri harus selalu siap menjadi pelayan ummat, yang memudahkan urusan-urusan mereka. Dia harus siap menjadi tumpuan seluruh lapisan masyarakat sebab santri dipercaya masarakat untuk menyelesaikan segala persoalan, baik persoalan dunia maupun Akhirat, seperti susah jodoh, perselingkuhan, anak, maaf, dianggap bodoh, orang hilang, santet, dan lain sebagainya.

Saat pemilihan kepala di daerah pun santri sering kali diminta untuk mendoakan pasangan tertentu agar terpilih menjadi kepala daerah. Pamornya yang mampu menyatukan ummat, sering dimanfaatkan untuk mendulang suara tertentu.

Tidak perlu berkecil hati saat istilah kacang lupa kulitnya terjadi pada santri. Berapa banyak orang yang sedang sulit kehidupannya, lalu wasilah santri berubah nasibnya menjadi lebih baik dalam waktu dekat. Namun setelah itu, mereka lupa terhadap santri. Itulah perjuangan. Itulah dakwah. Itulah menolong secara ihlas, tidak mengharap balasan manusia. Cukuplah Allah yang menjadi sebaik-baik pemberi balasan. Wallahu A’lam.

Keberhasilan santri yang telah menjadi bagian masarakat yang tidak dapat dipisahkan, tentunya perlu kita sukuri dan kita rayakan bersama dengan berbagai kegiatan yang positif, agar keberkahannya dapat terus dirasakan masarakat, sampai kapanpun. Menjadi palipur lara. Penyejuk hati yang haus akan Agama. Pembalut luka yang papa. Pembersih noda di setiap jiwa yang merana. Payung Umat. Paku masarakat.

Ahirnya, kukatakan padamu, Selamat Hari Santri Teman… Allah yubaarik fiikum.

 

Cilandak, 20 Oktober 2017

Fathul Mu’min,

Khadim al-Na’li bi Ma’had al-Umm al-Islami

 

 

" data-url="http://ponpesalumm.com/selamat-hari-santri/" data-width=640 data-height=480> Share

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *