Blog

Sumpah Pemuda Anti Radikalisme

 

Oleh : Sayyid Ziyad Ibrahim Al-Idrus*

Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia. Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia. Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia

Itulah teks asli yang ada pada sumpah pemuda. Sumpah pemuda merupakan hasil Kongres Pemuda Kedua yang dirumuskan pada 28 Oktober 1928 di Batavia atau kini dikenal sebagai Jakarta. Peristiwa ini menjadi satu tonggak penting dalam sejarah pergerakan nasional bangsa Indonesia.

Sumpah Pemuda kini memasuki tahun ke-89 sejak dideklasrasikan. Artinya peristiwa ini bukan lagi momen seumuran jagung. Kendati teks ini tak muda lagi, nyatanya sumpah pemuda masih eksis dikenang serta mendarah daging di rakyat Indonesia.

Jika dahulu Kongres Pemuda digelar sebagai wujud melawan kekuatan kolonialisme. Namun diera sekarang lawan pemuda Indonesia tidak hanya penjajahan semata melainkan tentang zaman yang kian beragam. Mulai dari ilmu pengetahuan, teknologi, dan hal lain yang mampu mendukung pengokohan bangsa.

Saat ini di Indonesia kita berusaha melawan negara kita sendiri, melawan bangsa kita sendiri, melawan pemerintah kita sendiri yang tiada akhirnya. Dan para cecenguk-cecenguk berfaham radikalisme mulai bangkit mengibarkan benderannya, bahkan mereka sudah mulai bertindak.

Dalam peringatan sumpah pemuda saat ini kita bukan hanya sebagai pemuda indonesia tetapi sebagai pemuda islam, kita harus melawan radikalisme yang mulai bangkit kembali di tengah-tengah kita. Satukan umat satukan barisan tegakkan keadilan. Kita tutup rapat-rapat radikalisme yang mulai bangkit di negeri kita ini.

Sudah jelas sekali bahwa pemahaman radikal dan yang berkaitan dengannya dilarang di dalam undang-undang Indonesia. Karena pemahaman radikal dapat merusak perdamaian dan ketentraman di indonesia. Negara yang dibangun dengan perjuangan dan sistem musyawarah akan runtuh jika kita tidak bertindak untuk melawan radikalisme ini hingga akarnya.

Banyak aktor-aktor radikal yang bersembunyi dibalik topeng pemerintah, diam-diam menyebarkan pahamnya dibalik baying-bayangnya dan menghancurkan dari dalam hingga luar. Hal Inilah yang seharusnya kita perhatikan. Peribahasa berkata “serigala berbulu domba”  ia berakting didepan massa sebagai orang yang adil yang memberikan solusi tatkala ada masalah tetapi ketika radikalisme muncul di depan layar ia hanya bisa mengangguk membalas dengan senyuman.

Jika bukan kita umat islam siapa lagi yang akan menghentikan radikalisme. Jika bukan sekarang kapan lagi. Rapatkan barisan, bela umat, bela agama, bela negara, bela kebenaran!

 

*Penulis adalah Santri PonPes Al-Umm kelas I;dadi yang juga duduk di bangku kelas X SMA.

" data-url="http://ponpesalumm.com/sumpah-pemuda-anti-radikalisme/" data-width=640 data-height=480> Share

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *