Blog

Tidur Saat Puasa, Ibadah?

 

Allah SWT melipatgandakan pahala ibadah pada bulan Ramadhan, pahala ibadah wajib, Allah SWT lipatkan menjadi 70 kali lipat, dan ibadah sunnah Allah SWT lipatkan menjadi pahala ibadah wajib. Dari sini kita tahu, bahwa setiap pekerjaan yang baik pada bulan Ramadhan, akan dilipatgandakan pahalanya, tak terkecuali tidur siang hari pada bulan Ramadhan.

Diantara Hadist Nabi yang menjelaskan bahwa tidur siang hari pada bulan Ramadhan adalah ibadah, seperti ini teks Haditsnya :

نوم الصائم عبادة وصمته تسبيح وعمله مضاعف ودعاؤه مستجاب وذنبه مغفور

“Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah, dan diamnya adalah tasbih, pekerjaanya dilipat gandakan (pahalanya), doanya dikabulkan, dan dosanya diampuni.”

Hadist ini biasa dijadikan hujjah oleh orang yang keseringan tidur di siang hari Ramadhan, karena jelas tertulis tidurnya adalah ibadah.

Sehingga perlu kita telaah apa kedudukan hadits ini?

Imam Baihaqi telah menyebut Hadits ini dalam kitab Beliau, Syu’bu al-Iman, dengan tiga jalur sanadnya, dan dalam ketiga jalur sanadnya tersebut, terdapat Abdul Malik bin Umair. Sedangkan jalur sanad yang kedua selain Abdul Malik bin Umair, juga terdapat Sulaiman bin Amr, sedangkan pada jalur yang ketiga terdapat Ma’ruf bin Hasan.

Al-Alim Al-Allamah Zainuddin Muhammad atau di kenal Abdurrouf bin Taju Al-Abidin Al-Munawi dalam kitab beliau Faidul Al-Qodir Syarah Jami’ As-Shogir menjelaskan :

  1. Uqbah berkata bahwa Ma’ruf bin Hassan salah satu periwayat Hadits ini berkedudukan dho’if. Dan Sulaiman bin Amr An-Nakho’i lebih dho’if dari Ma’ruf bin Hassan.
  2. Al-Hafidz Al-Iroqi menjelaskan bahwa di dalam Hadits ini ada Sulaiman bin Amr’. Dia adalah salah satu Kadzabbin (pembohong). Dan Al-Imam Ad-Dzahabi mengkatagorikan Abdul Malik bin Umair sebagai orang yang dho’if.

Al-Hafidz Zainuddin Al-Iraqi dalam kitab Takhrij Ahadits Al-Ihya, mengatakan :

“Kami telah meriwayatkan dari Amali Ibnu Mandah dari riwayat Ibnu Al-Mughirah Al-Qawas dari Abdullah bin Umar dengan sanad dha’if. Kemungkinan maksudnya Abdullah bin ‘Amr, karena ahli hadits tidak menyebut riwayat bagi Ibnu Al-Mughirah kecuali dari Abdullah bin ‘Amr. Telah diriwayat pula oleh Abu Manshur Ad-Dailamy dalam Musnad Al-Firdaus dari hadits Abdullah bin Abi Aufa dan pada sanad hadits tersebut ada Sulaiman bin ‘Amr al-Nakh’i, salah seorang pendusta.”

Jika ditelaah secara eksplisit dan dilihat dari zhohir kedudukan Hadits tersebut, hukum Hadits tersebut adalah dho’if. Sedangkan hukum Hadits dho’if tidak boleh menjadi landasan hukum syariat dan referensi istinbath hukum. Hadist dho’if hanya bisa dipakai dalam Fadhoil A’mal (keutamaan pekerjaan yang mendatangkan pahala) itupun harus memenuhi syaratnya.

Dan dalam masalah ini, apakah tidur siang hari saat berpuasa adalah ibadah atau bukan? Apakah mendapat pahala atau tidak? Yang jelas, pahala ibadah seorang hamba itu semua ketentuan Allah SWT, semua pekerjaan yang tidak berbau maksiat dan tidak melanggar syariat, apakah itu wajib atau sunnah, jelas akan Allah SWT berikan pahala, terlebih lagi pada bulan Ramadhan. Jika ada pekerjaan yang lebih bermanfaat daripada tidur, lebih baik mengerjakan sesuatu yang bermanfaat itu.

" data-url="http://ponpesalumm.com/tidur-saat-puasa-ibadah/" data-width=640 data-height=480> Share

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *