Blog

Ulama Yang Hina

 

Dalam Kitab, al-Mustadrak ‘ala as-Sahihain, al-Hakim mengeluarkan hadits:

سَيَأْتِيَ عَلَى الناَّسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتٌ يُصَدَّقُ فِيْهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيْهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيْهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيْهَا الأَمِيْنُ وَيَنْطِقُ فِيْهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيْلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ (رواه الحاكم في المستدرك، ج 5/465)

“Akan tiba pada manusia tahun-tahun penuh kebohongan. Saat itu, orang bohong dianggap jujur. Orang jujur dianggap bohong. Pengkhianat dianggap amanah. Orang amanah dianggap pengkhianat. Ketika itu, orang “Ruwaibidhah” berbicara. Nabi ditanya, “Siapa Ruwaibidhah itu?” Beliau menjawab, “Orang bodoh yg mengurusi umat, rakyat, orang banyak.” (Hr. al-Hakim, al-Mustadrak ‘ala as-Shahihain, V/465).

Imam Ibnu Rojab Al-hambali dalam Jaami’ul Uluum wal Hikam menyatakan riwayat makna “ruwaibidhoh” dikeluarkan imam Thabrani dan imam Ahmad:

قالوا : وما الرويبضَةُ ؟ قال : ( السَّفيه ينطق في أمرِ العامَّة ) . وفي رواية : ( الفاسقُ يتكلَّمُ في أمر العامة(

Mereka bertanya: Apakah ruwaibidhoh itu? Beliau bersabda: “Orang bodoh yang berbicara dalam urusan keumatan, masyarakat”. Sedangkan dalam riwayat lain: “orang ahli maksiyat yg berbicara dlm urusan  masyarakat, keumatan”.

Pemimpin Ruwaibidhoh adalah Pemimpin bodoh dan ahli maksiyat yg diamanati urusan masyarakat. Banyak ditemukan skrg, orang bodoh diserahi urusan umat, masyarakat atau orang yg berilmu tapi pernyataan dan sikapnya bertentangan dg syariat. Hakekat keduanya sama saja, masuk golongan yg tdk berakal.

Maka ulama menyebut orang yg dhohirnya intelek dan berdedikasi namun pernyataan dan sikapnya bertentangan bahkan menentang syariat maka mereka hakekatnya adalah golongan yg tdk berakal. Imam Ibnu hazm dalam “al-Ihkam fii Ushuul al-Ahkam mengatakan:

تَرَى الرجلَ داهِيا لبِيبا فاطِنا و لا عقْلَ لهُ فالعاقِل مَنْ اطاع اللهَ عز و جل

Engkau akan melihat seorang laki-laki cerdik, pandai dan cerdas akan tetapi sebenarnya mereka tdk berakal, karena hakekat orang berakal adalah mereka yg taat kepada Allah.

Orang ‘Alim tunduk kepada kebijakan orang bodoh, maka menjadi manusia terhina, Terhina karena tdk menggunakan akalnya dg benar. Dan derajatnya menjadi golongan orang yg tdk berakal karena tunduk kpd orang yg bodoh. Imam Al-Mawardi mengutip ungkapan ahli hikmah:

قيل لبعض الحكماء  من أذل الناس ؟ فقال عالم يجري عليه حكم جاهل

“Siapakah orang yg plg hina? Yaitu Orang alim (ulama) yg tunduk dg keputusan penguasa, orang bodoh.” (Lihat, Al-Mawardi, Adab ad-Dunya wa ad-Din, hal. 48).

Abu ‘Ali ad-Daqqâq rahimahullah (wafat 412 H) berkata:

الْمُتَكَلِّمُ بِالْبَاطِلِ شَيْطَانٌ نَاطِقٌ وَالسَّاكِتُ عَنِ الْحَقِّ شَيْطَانٌ أَخْرَسُ

“Orang yg berkata batil adalah Setan yg berbicara. Sedangkan orang alim yg diam dari kebenaran adalah Setan yg bisu.” (Ibnul-Qayyim dalam ad-Dâ` wad-Dawâ`, Tahqîq: Syaikh ‘Ali bin Hasan al-Halabi, Penerbit Dar Ibnil-Jauzi, hlm. 155)

BILA ORANG ALIM, ULAMA TUNDUK KEPADA RUWAIBIDHOH TIDAK TAUBAT HINGGA WAFAT MAKA AKAN HINA DI AKHERAT

Allah SWT. berfirman:

يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوْهُهُمْ فِى النَّارِ يَقُوْلُوْنَ يٰلَيْتَـنَاۤ اَطَعْنَا اللّٰهَ وَاَطَعْنَا الرَّسُوْلَا

“Pada hari (ketika) wajah mereka dibolak-balikkan dlm neraka, mereka berkata, “Aduh, kiranya dahulu kami taat kpd Allah dan taat (pula) kepada Rasul”. (QS. Al-Ahzab, Ayat: 66)

وَقَالُوْا رَبَّنَاۤ اِنَّاۤ اَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَآءَنَا  فَاَضَلُّوْنَا السَّبِيْلَا

“Dan mereka berkata, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami tlh mentaati para pemimpin dan para pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar).” (QS. Al-Ahzab, Ayat: 67)

رَبَّنَاۤ اٰتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ  لَعْنًا كَبِيْرًا

“Ya Tuhan kami, timpakanlah kpd mereka azab dua kali lipat dan laknatlah mereka dg laknat yg besar.”(QS. Al-Ahzab, Ayat: 68)

ولما علموا أنهم هم وكبراءهم مستحقون للعقاب، أرادوا أن يشتفوا ممن أضلوهم، فقالوا: { رَبَّنَا آتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْنًا كَبِيرًا } فيقول اللّه لكل ضعف، فكلكم اشتركتم في الكفر والمعاصي، فتشتركون في العقاب، وإن تفاوت عذاب بعضكم على بعض بحسب تفاوت الجرم

“Ketika mereka mengetahui  bahwa mereka dan  pemimpin mereka  memperoleh  siksaan, maka mereka  menginginkan agar mereka ditambah siksaannya karena mereka tlh menyesatkan. Dan mereka berdoa; Ya Tuhan kami. Maka Allah berfirman: masing-masing dilipatgandakan, sekalipun siksaan sebagian satu dg yg lain  sesuai dg perbedanan tingkat kejahatannya” (tafsir As-sa’dy)

Bagaimana Sikap Ulama Akhirat dg pemimpin Ruwaibidhoh:

  1. Menampakkan kebenaran,

Imam Ahmad ibn Hanbal di dalam Bayna Mehnah al-Din wa Mehnah al-Dunya, mengatakan:

إذا سكت العالم تقيةً، والجاهل يجهل، فمتى يظهر الحق

“Jika diam orang alim kerana taqiyah (cari aman), dan orang jahil terus dalam ketidaktahuan, maka kapan kebenaran itu akan nampak?”

  1. Memerintahkan pemimpin kembali kepada syari’at dlm mengatur urusan masyarakat.

Dari Abu Sa’id Al Khudri, Nabi saw bersabda:

أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ

“Jihad yg plg utama adalah mengatakan hak, kebenaran di hadapan penguasa yang zalim.” (HR. Abu Daud no. 4344, Tirmidzi no. 2174, Ibnu Majah no. 4011. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan, hadits ini hasan). Sabda Nabi SAW:

سَيِّدُ الشُّهَدَاءِ حَمْزَةُ بْنُ عَبْدِ المُطَلِّبِ وَرَجُلٌ قَالَ إِلَى إِمَامٍ جَائِرٍ فَأَمَرَهُ وَنَهَاهُ فَقَتَلَهُ

”Pemimpin para syuhada adalah Hamzah bin Abdul Muthallib dan seseorang yg berdiri di hadapan imam yg zalim, lalu orang itu memerintahkan yg ma’ruf kepadanya dan melarangnya dari yang munkar, lalu imam itu membunuhnya.” (HR. Tirmidzi dan Al-Hakim)

*Kiriman dari Syaikhuna Misbahul Anam

" data-url="http://ponpesalumm.com/ulama-yang-hina/" data-width=640 data-height=480> Share

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *